Glycated Albumin Sebagai Penanda Kontrol Glikemik Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2

Authors

  • Anselmus Ake
  • Made Ratna Saraswati Udayana University
  • I Gde Raka Widiana Udayana University

DOI:

https://doi.org/10.36216/jpd.v1i1.10

Keywords:

DmT2, HbA1C, penanda kontrol glikemik

Abstract

Latar Belakang: Glycated albumin (GA) merupakan indeks kontrol glikemik yang relatif baru. GA mencerminkan status
glukosa darah yang lebih pendek dibandingkan HbA1C, yakni 2-4 minggu sebelumnya. Tujuan: untuk mengetahui
apakah GA dapat digunakan sebagai penanda kontrol glikemik pada penderita DM tipe 2 (DMT2) dengan mencari
sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), dan nilai duga negatif (NDN) dari GA. Metode: Penelitian ini
merupakan uji diagnostik, studi potong lintang, dilaksanakan di RSUP Sanglah dari Desember 2015 hingga Februari
2016 menggunakan sampel 59 pasien DMT2. Kontrol glikemik ditentukan dengan HbA1C, glukosa puasa dan glukosa
2JPP (baku emas). Hasil: Didapatkan area under ROC curve GA adalah 0,9135 (91,35%). Didapatkan 5 cut off point GA
dimana 2 cut off point menunjukkan kemampuan skrining GA yakni ?18,7% dan ?19%, 2 cut off point menunjukkan
kemampuan diagnostik GA yakni ?21,4% dan 22,4%, dan 1 cut off point optimal yakni 20,4%. Hasil uji diagnostik
dengan menggunakan tabel silang 2x2 pada masing-masing cut off point yaitu GA ?18,7% sensitivitas 94,7%;
spesifisitas 76,2%; NDP 87,8%; NDN 88,9%. GA ?19% sensitivitas 89,5%; spesifisitas 81%; NDP 89,5%; NDN 81%. GA ?
20,4% sensitivitas 81,6%; spesifisitas 85,7%; NDP 91,2%; NDN 72%. GA ?21,4% sensitivitas 76,3%; spesifisitas 90,5%;
NDP 93,5%; NDN 67,9%. GA ?22,4% sensitivitas 63,2%; spesifisitas 95,2%; NDP 96%; NDN 58,8%. Berdasarkan uji
korelasi, terdapat hubungan positif kuat antara GA dengan HbA1C, GA dengan glukosa puasa dan GA dengan glukosa
2JPP. Kesimpulan: Pemeriksaan GA darah dapat digunakan sebagai modalitas diagnostik dalam menilai kontrol
glikemik pada penderita DMT2.

Downloads

Download data is not yet available.

References

American Diabetes Association. 2010. Position statement:
standards of medical care in diabetes 2010. Diab Care;
33(Suppl.1)
2. International Diabetes Federation. 2012. IDF diabetes
atlas 2012 updated (poster format). 5th edition. Brussels:
International Diabetes Federation. p. 1-2
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011. Konsensus
pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di
indonesia. Jakarta: PB. PERKENI. p. 1-62
4. International Diabetes Federation. 2005. IDF guidelines
task force. global guideline for type 2 diabetes. Brussels:
International Diabetes Federation. p. 1-82
5. Suastika, Ketut. 2008. Kumpulan naskah ilmiah (obesitas,
sindroma metabolik, diabetes, dislipidemia dan penyakit
tiroid).Denpasar: Udayana University Press. p.220-225
6. Monnier, L & Colette, C. 2009. Target for glycemic
control. Diabetes Care; 32 (Suppl. 2): 199-204
7. Mahajan, R.D., Mishra, B. 2011. Using glycated
hemoglobin hba1c for diagnosis of diabetes mellitus: an
indian perspective. Int J Biol Med Res; 2(2): 508-512
8. Schneider, H., Shaw, J., Zimmet, P. 2003. Guidelines for
the detection of diabetes mellitus: diagnostic criteria and
rationale for screening. Clin Biochem Rev; 24: 77-80
9. World Health Organization. 2011. Use of glycated
haemoglobin (hba1c) in the diagnosis of diabetes mellitus.
Abbreviated Report of a WHO Consultation; 1-25
10. American Diabetes Association. 2012. Position statement:
standards of medical care in diabetes 2012. Diab Care;
35(Suppl.1)
11. Peacock, T.P., Shihabi, Z.K., Bleyer, A.J., Dolbare, E.L.,
Byers, J.R., Knovich, M.A., et al. 2008. Comparison of
glycated albumin and hemoglobin A1c levels in diabetic
subjects on hemodialysis. Kidney International; 73: 1062–
1068
12. Koga, M. & Kasayama, M. 2010. Clinical impact of
glycated albumin as another glycemic control marker.
Endocrine Journal; 57(9): 751-762
13. Yoshiuchi, K., Matsuhisa, M., Katakami, M., Nakatani, Y.,
Sakamoto, K., Matsuoka, T., et al. 2008. Glycated albumin
is a better indicator for glucose excursion than glycated
hemoglobin in type 1 and type 2 diabetes. Endocrine
Journal; 55 (3): 503-507
14. Sastroasmoro, S. 2010. Dasar-dasar Metodelogi Penelitian
Klinis. Jakarta: CV Sagung Seto. p. 321
15. Nitin, S. 2010. HbA1c and factors other than diabetes
mellitus affecting it. Singapore Med J; 51(8): 616-622
16. Son, J.I., Rhee1, S.Y., Woo1, J.T., Hwang, J.K., Chin,
S.O., Chon, S., et al. 2013. Hemoglobin a1c may be an
inadequate diagnostic tool for diabetes mellitus in anemic
subjects. Diabetes Metab J; 37: 343-348
17. Arasteh, A., Farahi, S., Rezaei, M.H., Movahedi, A.A.M.,
2014. Glycated albumin: an overview of the in vitro
models of an in vivo potential disease marker. Journal of
Diabetes & Metabolic Disorders; 13: 49

Published

2017-06-30

How to Cite

1.
Ake A, Saraswati MR, Widiana IGR. Glycated Albumin Sebagai Penanda Kontrol Glikemik Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Udayana In. Med. [Internet]. 2017Jun.30 [cited 2021Feb.26];1(1):1-7. Available from: https://jpdunud.org/index.php/JPD/article/view/10